Biru Kepada Kelabu
Hai, Kelabu. Masihkah kau ingat aku? Engkau adalah selimut malamku, juga mantel siangku. Sayangnya, engkau tak melihatku. Selamat pagi, Kelabu. Dapatkah kutitip rindu? Kepada temanku. Benar, sang batu, si kecil yang selalu bermain denganku, dulu. Ia mungkin masih menunggu karena air tak lagi menggelitik sambil lalu pada tepian sungai itu. Selamat siang, Kelabu. Dapatkah kau sampaikan sahut? Kepada sahabat karibku. Benar, sang laut yang bersama angin mendeburkan lagu. Kemarin mereka memanggilnya pengantar maut. Kini mungkin lagunya terdengar sendu karena langit tak lagi aku. Selamat malam, Kelabu. Dulu, siang begitu rindang, malam tiada terang kecuali rembulan dan bintang. Apakah malam sekarang? Ataukah sedang siang? Semoga tidurmu tetap tenang Meski manusia masih berlalu lalang Pun suara mesin terus menggaung garang. ( Kota Kelabu, 14 Juli 2019 )