Awan Paska Badai
Langit cerah-cerahnya, Semua bersuka ria. Kecuali awan penuh luka Kini awan bukan apa apa Kecuali embun di pagi buta. Menatap rembulan dengan bintangnya. Tapi di pagipun pijarnya telah sirna. Dan malampun tiba, Dan awan hanyalah tetes apa Pada langit langit gua. Ribuan kali butiran air itu mengembara Bahkan embun ia jelma. Tapi tak ditemukan lagi tuannya. Tuannya sedang bersama puannya, Sedang ia hanya bagian dari air mata Pada kemarin, di selasar pagi berangin. Sesekali ia hanyut menuju laut Kalau kalau rembulan menunduk Untuk menatap pantulnya. Ia mencari cara, Ia mencari upaya, Tapi tak ia temukan kuasa. Kuasa untuk mengobati, Kuasa untuk tahu diri. Mungkin sukmanya sedang mati, Membanjiri. Butiran air itu kini tak berani Untuk menanti Atau berharap lagi. Gua Tanpa Sorot Rembulan, 2021-10-11