-
Engsel pintu berderit Layaknya lidah yang tak jua menjerit. Daun randu masih diterpa bayu Seperti dua angan yang tak jua menyatu Bahkan sampailah tanah, atau batu. Hulu masih menghilir Mengapa tak ada aku dalam satu pikir? Seolah hanya parkir. Pisah harus milik dua usai. Tapi ada satu ikat, tak bisa kuurai. Sedang milikmu, ditebas samurai. Ia pada setiapmu, - pada setiapku. s.r 2022-01-22