Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Kemarin Lusa

Seperti kemarin lusa, engkau nampak biasa saja. Seperti kupu-kupu, terbang ke manapun tak tahu. Seperti lalat, apapun kau jilat. Seperti angin, melayangkan debu meski tak ingin. Seperti air, menyerahkan diri menuju hilir. Seperti matahari, tetap menerangi tak hirau perginya siang hari. Seperti bulan, menanti suatu malam untuk menelan. Dan seperti awan, hanya datang untuk sang hujan. Tapi tak seperti kemarin lusa, engkau teramat berbeda. ( Alam Semesta, Kemarin Lusa )

Bagaimana, Tuan?

Tuan, baru saja kemarin kita berjumpa, tapi terasa tak pernah saling menyapa. Tuan, ketika aku memanggil engkau, pastilah aku ingin menanya. Kali ini tak lagi "mengapa", hanya saja begitu banyak "bagaimana". Tuan, bagaimana untuk tak berkeluh kesah kepada masalah? Kulihat engkau begitu hebat meski harus menerima salah. Dan lagi, Tuan, bagaimana meredam merah meski hati sudak tak mampu memendam amarah? Kulihat engkau selalu tenang meski tubuhmu penuh darah. Satu lagi, Tuan, bagaimana engkau menahan tangis, meskipun engkau tahu benar mereka begitu bengis? Kulihat engkau selalu tegar meski cuaca sedang gerimis. Tuan, kuharap suatu saat kita mampu kembali bersua, ketika masalah tak lagi benar dan salah, ketika luka telah terseka, dan ketika cuaca sedang ceria. Bagaimana, Tuan? ( Pengaduan, -- Februari 2020 )

Mengulang Kenang

Ruang kecil ini selalu membawaku berkelana dalam ruang pikiranku, tentang masa-masa yang telah lalu, terbungkus rapat dalam kotak biru tertutup debu. Ingatanku melayang, membayangkan kenangan-kenangan yang sempat aku lupakan, yang kukira tak akan pernah lagi kutemukan di antara kerumunan ingatan-ingatan dan kenangan-kenangan yang memadati ruang sempit di kepalaku, yang tentunya lebih sempit daripada ruangan sempit yang sedang aku singgahi untuk beberapa jam ke depan, bus. Pikiranku sedang memutar ulang sebuah kenang, akan masa dimana aku tak sekalipun percaya cinta, hanya memegang erat cita-cita. Kala itu aku adalah raga bernyawa tanpa rasa. Kukira rasa hanya merusak kata, membatasi jiwa, syarat untuk menderita. Aku salah seluruhnya. Rasa adalah inti dari sebuah karya, roh dari sebuah cita-cita mulia. Bagaimana dengan cinta? Ia tentu ada, aku salah membencinya. Bukan cinta yang aku benci, tapi kebodohan yang mengatas namakan cinta, yang menjelma rasa, yang mengelabuhi penyandangnya....