Hujan Paska Badai

Sudah seminggu berlalu dan mungkin sudah ratusan kali kalimat ini berputar dalam benakku: "Aku telah melupakanmu." Tapi apalah kata sang benak, jika batin selalu melukis sosokmu, meski kadang hanya ucapan atau kenanganmu.

Rasanya ini tak semudah melupakan yang pertama karena kala itu adalah rentetan kejadian yang jika kuringkas: mencicil melupakan tiap harinya. Kisah kita berbeda, setidaknya dari sisiku. Mungkin engkau telah lupa akan betapa kita berusaha, seberapa besar air mata, dan seberapa berharganya tawa kita, yang tidak kita dapatkan dengan instannya. Mungkin di sisimu, melupakanku lebih mudah bagimu. Engkau telah mengangsur perubahan itu hari demi hari, menguatkan hatimu meski akhirnya memilih yang lain. Tapi bagiku, semuanya bagaikan tsunami. Tiba-tiba saja gelombang pasang masif datang memaksaku untuk meleburkanmu. Namun bila kau lihat lebih dekat, puing-puingmu masih menancap erat pada relung-relungku.

Aku benar-benar ingin kembali ke sore itu dan mengatakan untuk tetap bersamaku. Tapi jika kusingkap lebih cermat lagi, hanya logikamu yang bersamaku, tapi tidak dengan hatimu. Kalaupun aku punya mesin waktu dan kuulangi sore itu bahkan kali seribu, jawabnyapun tetap begitu karena telah tak kulihat lagi sorot mata yang dulu selama engkau mengadu.

Mungkin aku telah gila karena memohon untuk kedua kalinya. Tapi engkau tetap pada jalanmu, dan itu yang membuatku mencintaimu. Engkau telah menghanyutkanku bersama badai di sore itu hingga tak ada lagi sisa-sisaku pada atmamu. Dan dalam penuh atmamu hanyalah si puan yang kini engkau peluk erat. Terkadang aku berdoa untuk menjadi kejam sekali saja agar aku bisa merenggutmu dari si puan yang tak tahu apa-apa. Namun pada akhirnya akulah si kakak yang baik, yang hanya meminta untuk mencintainya, sedang tenun dan rajut kita kau buang saja.

Kukira rasa itu terbangun begitu megahnya pada masing-masing sukma kita. Tapi bahkan duniapun akan sirna pada waktunya.


2021-10-18

Komentar